Wednesday , 15 August 2018

Home » INTERMEZZO » FAMOUS » Indra Charismiadji : “Praktisi Pendidikan Penyuka Tantangan “
Indra Charismiadji : “Praktisi Pendidikan Penyuka Tantangan “

Indra Charismiadji : “Praktisi Pendidikan Penyuka Tantangan “

December 9, 2016 4:56 am by: Category: FAMOUS, INTERMEZZO 4 Comments A+ / A-

Jakarta, INEWSAIR –  Terlahir dari keluarga pendidik, Indra Charismiaji merasa faktor genetik sangat kuat mengalir di tubuhnya yang sangat menyukai dunia pedidikan dan hal itu menjadi salah satu alasan kuat mengapa kini akhirnya ia pun terjun total didunia pendidikan. “Memang sejak dari kecil, passion saya ada di dunia pendidikan. Jadi, walaupun saya terjun di dunia bisnis, tetap terkait dengan dunia pendidikan,” kata pria kelahiran Bandung, 9 Maret 1976 ini. Tak heran, Direktur Utama PT Eduspec Indonesia ini terus berinovasi untuk melahirkan sesuatu yang bermanfaat guna memajukan dunia pendidikan.

Bagi Indra, Idealisma dan jiwa mendidik, adalah kunci utama menciptakan sumber daya manusia berkualitas, tanpa mengesampingkan bisnis semata. “Bidang pendidikan, tanpa idealisme tidak akan ada solusi yang bisa jalan. Harus dipahami bahwa dunia pendidikan sangat berbeda dengan dunia perdagangan, atau pun jual-beli pendidikan lebih bersifat jangka panjang dan sangat abstrak. Tidak semua orang bisa terjun di dunia ini,” jelas pria yang akhirnya menawarkan konsep berlajar berbasis teknologi atau e-Sabak (sistem Aplikasi Belajar Aktif dan Kreatif), ke sekolah-sekolah.

Indra menyelesaikan studi dari the University of Toledo, negara bagian Ohio, Amerika Serikat, dengan gelar ganda di bidang keuangan dan pemasaran untuk jenjang strata satu. Lalu, dia melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi di Dana University, Ottawa Lake, negara bagian Michigan, Amerika Serikat.

Berbekal pengalaman bekerja di beberapa perusahaan tingkat dunia di Amerika Serikat, antara lain Merril Lynch, Omnicare, dan Dana Corporation, tahun 2002, Indra memutuskan untuk kembali ke Tanah Air. Kemudian, dia memilih berperan aktif dalam mengembangkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Kiprahnya dimulai dengan memperkenalkan CALL (computer-assisted language learning) untuk pertama kalinya. Pengalaman bertahun-tahun di bidang teknologi pendidikan dan jejaring tingkat internasional, membuat Pemerintah Indonesia baik di level pusat maupun daerah menempatkan Indra sebagai konsultan dalam bidang pengembangan Pembelajaran Abad 21.

Saat ini, Indra pun memimpin PT Eduspec Indonesia, yang merupakan bagian dari Eduspec International, yang juga beroperasi di Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, dan Tiongkok. Dia pun memiliki pengalaman yang unik saat memutuskan kembali ke Indonesia, setelah memiliki karier yang cemerlang di Amerika Serikat.“Di koran-koran dan televisi, saya selalu membaca, melihat, dan mendengar bahwa Indonesia sangat banyak masalah. Itu yang mendorong saya pulang ke Indonesia,” katanya.

Padahal, Indra saat itu sudah hidup cukup mapan bersama keluarganya di Amerika. Tapi, hal itu dia tinggalkan semua demi mewujudkan cita-citanya memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Tak bisa dimungkiri, banyak teman yang sudah hidup nyaman di Amerika mencegahnya pulang.

“Bodoh kalau pulang ke Indonesia dalam kondisi yang masih kacau. Nanti saja, kalau sudah bagus, kita kembali,” katanya, menirukan saran teman-temannya.Namun, karena dorongan hati yang demikian kuat, ayah dua anak ni berani meninggalkan gaji sekitar Rp 500 juta per bulan untuk memulai dari nol di negaranya sendiri. “Kalau bukan orang Indonesia sendiri yang memperbaiki, lalu siapa lagi ?” kata pria yang hobi membaca buku ini.

 

Kiprah Perusahaan

Kiprahnya pun dimulai dengan memperkenalkan CALL. Pengalaman bertahun-tahun di bidang teknologi pendidikan dan jejaring tingkat internasional, membuat pemerintah Indonesia, baik di level pusat maupun daerah menempatkan Indra sebagai konsultan dalam bidang pengembangan Pembelajaran Abad 21.

Usahanya tak sia-sia. Karena, dia terbilang berhasil dengan menempati posisi sebagai presiden direktur di usianya yang relatif muda. Namun, dia merasa tetap belum sukses.

“Menurut saya, sukses adalah sesuatu yang sangat subjektif. Saya belum merasa diri saya sukses, karena hasil karya saya belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya. Namun, saya merasa beruntung dianugerahi penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” tambahnya.

Dalam kiprah pelayanannya, Eduspec Indonesia membantu pengembangan sekolah-sekolah melalui program-program inovatif dan modern yang mengacu pada Pembelajaran Abad 21. Perusahaan yang dipimpinnya menjadi pelopor dalam mempromosikan pemanfaatan media dan integrasi teknologi informasi dan komunikasi.“Integrasi teknologi informasi dan komunikasi ini juga sejalan dengan proses pembelajaran dalam Kurikulum 2013 yang mengintegrasikan science, technology, engineering, and math(STEM) dari mulai tingkat sekolah dasar,” ungkapnya.

Sejak diakuisisi pada 2010, Eduspec Indonesia telah membantu lebih dari 500 institusi pendidikan, baik negeri maupun swasta, di Provinsi DKI Jakarta dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia.

 

Kiprah Organisasi

Aktivitasnya dalam bidang organisasi, pun tak lepas dari bidang pendidikan. Indra Charismiadji berperan aktif sebagai Dewan Pakar di Asosiasi Guru TIK / KKPI Indonesia (Agtifindo), anggota kehormatan dari APACALL (Asia Pacific Association for Computer-Assisted Language Learning), dan anggota dari ISTE (International Society for Technology in Education), dan Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo).

 

Mindset

“Roh” pembelajaran abad ke-21 katanya, adalah mengubah “mindset” pendidikan di Indonesia. Banyak yang harus diubah. “Ironisnya, pendidikan gerbang utama perubahan, tapi di Indonesia justru pendidikan paling sulit berubah,” katanya.

Kini Indonesia berada di urutan ke-69 dari 76 negara di bidang pendidikan, Singapura urutan pertama. Indonesia bukan bangsa bodoh, tapi malas. Modal Indonesia banyak, karena kaya sumber daya alam. Kuantitas SDM dan SDA melimpah, tapi kualitasnya rendah.

Dulu, orang Malaysia datang belajar ke Indonesia, demikian juga Singapura dan negara-negara lainnya. Mereka kagum melihat Monas, Jembatan Semanggi, dan bangunan-bangunan bagus lainnya. “Nah, dalam beberapa dekade kemudian, semua negara yang berlomba untuk melebihi Indonesia, sudah melejit jauh. Sayangnya, Indonesia hanya tinggal diam. Kini, Indonesia kalah jauh,” tutupnya. Dok

Indra Charismiadji : “Praktisi Pendidikan Penyuka Tantangan “ Reviewed by on . Jakarta, INEWSAIR -  Terlahir dari keluarga pendidik, Indra Charismiaji merasa faktor genetik sangat kuat mengalir di tubuhnya yang sangat menyukai dunia pedidi Jakarta, INEWSAIR -  Terlahir dari keluarga pendidik, Indra Charismiaji merasa faktor genetik sangat kuat mengalir di tubuhnya yang sangat menyukai dunia pedidi Rating: 0

Comments (4)

  • Ramli Azis

    Kalau mau undang seminar, hubungi kemana ya pak Indra?

  • DR. Zulhamdi

    kok namanya tidak terdengar yah….padahal bagus untuk pembicara di acara-acara seminar pendidikan

  • David Alexander, SPD

    Berpotensi jadi pengamat pendidikan nih, asal benar cara mempromosikannya..

  • Edi Harahap

    Kalo mau mengundang ke daerah bisa tidak pak?

Leave a Comment

scroll to top